| [ home | archives | sign guestbook | view guestbook ] |
Mentari Pagi
lxq79@hotmail.com
Saat Untuk Bertindak
Seminggu ini aku jarang keluar rumah, bahkan karena pelajaran pokok di sekolah banyak yang libur minggu ini, terkadang aku sama sekali tidak pergi ke sekolah jadinya. Waktu 2 jam yang selalu kuhabiskan untuk pulang-pergi sekolah terlalu berharga untuk pelajaran-pelajaran sampah macam Pengantar Distribusi, Filosofi, Bahasa Inggris, dan beberapa lagi pelajaran-pelajaran lainnya.
Yah, minggu ini kuhabiskan dengan membaca buku-buku yang kupesan dari amazon.co.jp. Membaca tentang 1010110, tentang socket, deadlock, zombie, exec, multithreaded, algorithm, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan itu. Aku harus mengejar ketinggalanku! Sudah saatnya berhenti berkhayal, sudah saatnya untuk bertindak. Perkataan yang seharusnya aku ucapkan 4 tahun yang lalu. Dan sebenarnya, selama itu pula aku terus dihantui perasaan bersalah. Terus saja terngiang di telingaku kata-kata yang sering diucapkan oleh orang yang paling kusegani, idolaku, panutan hidupku, ayahku, "Jangan tunggu sampai besok!" Tapi sekarang aku sudah bisa bilang, "Aku sudah kerjakan apa yang bisa aku kerjakan hari ini!"
5:14 AM
Thursday, September 21, 2000
Back to School
Sudah 3 hari ini aku mempraktekkan ajaran hidup sehat. Tidur jam 8 malam, bangun jam 4 pagi. Bukan karena apa-apa, tapi karena sekolahku sudah dimulai sejak 3 hari yang lalu. Hari pertama, begitu takutnya aku terlambat ke sekolah (karena sudah seminggu lebih aku tidur pagi, dan bangun malam), aku tidak tidur seharian dua hari sebelum buka sekolah. Dengan pikiran, aku akan capek sekali, dan tidur cepat malamnya. Untungnya strategiku berhasil.
Tidak banyak yang berubah di sekolahku. Antrian di depan halte bis menuju sekolah - walaupun aku lebih memilih berjalan 30 menit daripada harus membayar 170 yen untuk tumpangan 10 menit. Anak-anak China, dan Taiwan yang masih saja bergerombol di student hall. Ibu-ibu tukang masak di dormitory yang siangnya mencari tambahan yen dengan berjualan bento di student hall. Guru programming yang tetap saja gendut.
Senang sekali rasanya back to school lagi. Lain dengan di negara lain, di Jepang mahasiswa enjoy sewaktu mereka di universitas. Katanya mereka sudah belajar mati-matian dari SD sampai SMA, dan berhak untuk enjoy selama 4 tahun sebelum kerja mati-matian lagi setelah lulus dari universitas. Suasana santai benar-benar terasa di universitas Jepang, kegiatan ekstra yang sebrek, mulai dari klub fotografi, panjat tebing, sepak bola, karate, judo, sampai klub yang kerjanya pesta-pesta saja. Dan menurut survey kabarnya 90% dari mahasiswa di Jepang tergabung dalam suatu klub. Bandingkan dengan hanya 7% di Amerika.
Anyway, yang terasa berubah setelah summer holiday adalah, cuaca yang tidak menyengat lagi, daun-daun yang mulai berguguran, beberapa samugariya (orang yang tidak tahan dingin) yang sudah mulai mengenakan jaket ke sekolah, sudah jarang kelihatan cewek-cewek bertanktop dan berkolor ria, dan AC yang hanya kadang-kadang saja dihidupkan.
5:46 AM
Sunday, September 17, 2000
Derita Dikala Hujan
Sudah seminggu ini terus-terusan hujan di Tokyo. Yang paling kubenci adalah ketika aku harus naik sepeda sehabis hujan. Iya, walaupun sepedaku keren, MTB merk Giant dengan 21 gear yang kubeli seharga 25 ribu yen, tapi sadelnya bolong! Makanya air hujan yang meresap ke busa sadel itu tidak bisa kering-kering. Dan aku harus berdiri sepanjang perjalanan kalau tidak mau celanaku basah. Sialan, ini sebenarnya gara-gara Park, cewek Korea teman se-dormitory waktu aku masih tinggal disana tahun lalu. Masih ingat aku waktu dia dengan lutut lecet-lecet mengembalikan kunci sepeda sambil bilang "Gomennasai ne" dengan logat Koreanya.
Ngomong-ngomong, kemarin pertama kalinya aku mengalami mati listrik di Jepang. Pagi kemarin memang hujannya lebat sekali, dan petirnya, yang terbesar kedua yang pernah kulihat seumur hidupku (yang terbesar pertama adalah petir Bogor). Sempat 5 kali listrik padam nyala. Walaupun hanya sekitar 10 detik saja setiap kali padamnya. Beda sekali dengan di Indonesia, apalagi di kota tercintaku yang kadang-kadang bisa sampai 2 hari penuh (walaupun sekarang udah jarang).
Gara-gara hujan jugalah nama Asakawa yang artinya sungai dangkal sekarang tidak cocok lagi dengan kenyataanya. Sungai dekat rumahku yang biasanya cuman selebar 6 meter itu sekarang sudah melebar jadi 50 meter. Warna airnya juga sudah tidak bening tembus pandang sampai ke dasarnya lagi, tapi sudah coklat berlumpur seperti sungai-sungai waktu banjir yang kita lihat di TV.
Tapi ada juga enaknya hujan, paling tidak aku bisa tidur tanpa AC di saat summer seperti ini.
8:57 AM
Tuesday, September 12, 2000
Natsu Otoko
Tokyo hari ini hujan sepanjang hari. Cuaca sudah mulai dingin, sebentar lagi musim gugur akan tiba. Sudah tidak terdengar lagi suara-suara semi yang terkadang menjengkelkan juga. Panasnya matahari sebentar lagi akan digantikan dengan sejuk musim gugur, sebelum dibenam oleh dinginnya musim dingin. Udara lembab ini sebentar lagi akan digantikan oleh angin beku yang kering. Peluh dari pori-pori ini sebentar lagi akan digantikan oleh asap dari hidung dan mulut.
Aku benci musim dingin di Tokyo, dimana kita tidak bisa ke pantai. Dimana kita harus memakai coat yang menjengkelkan. Dimana kita harus menyalakan heater yang bikin kering kerongkongan. Dimana tidak ada orang yang duduk-duduk di taman. Dimana kereta sering tidak tepat waktu karena salju. Dimana tidak ada cewek-cewek berpakain minim. Dimana tidak ada matsuri, tidak ada hanabi. Dimana nikmatnya bir dingin menjadi berkurang.
Kata orang Jepang, aku ini natsu otoko.
5:15 AM
Orang-Orang Hina
Orang itu memang banyak sekali jenisnya. Tapi yang paling kubenci adalah orang tak tahu berterima-kasih, yang sudah dikasih hati minta jantung. Orang-orang tipe ini adalah orang yang tidak patut dikasihani. Mereka ini tidak pernah memikirkan orang lain, yang ada didalam otak dangkalnya itu hanyalah AKU, AKU dan AKU.
Mungkin juga orang-orang sejenis ini menjadi seperti ini karena pengaruh lingkungannya, selain mungkin karena ukuran otak yang berbeda. Orang-orang sejenis ini bisa terdapat dimana saja, mereka bisa berwujud pengusaha, penjudi, jaksa, sopir angkot, tukang jamu, menteri, bahkan presiden.
Kadang-kadang orang menjadi seperti ini karena ia merasa enak sekali sewaktu mendapat bantuan, sehingga bukannya berterima kasih, sebaliknya malah mengharapkan yang lebih, lebih dan lebih. Mereka ini seharusnya lebih memahami lagi bahwa hidup itu adalah perjuangan, hidup itu keras.
3:34 AM
Monday, September 11, 2000
Insomnia, Liburan, dan Internet
Selain teman-teman yang kebanyakan pada pulang kampung, yang kubenci dari liburan adalah insomnia, ya benar penyakit tidak bisa tidur. Seperti juga liburan-liburan tahun sebelumnya, tahun ini juga tidak banyak berbeda. Yah, aku tidur waktu matahari mulai menunjukkan keperkasaannya di musim panas.
Sebenarnya sudah banyak cara kucoba, diantaranya dengan menahan kantuk sepanjang hari dengan harapan bisa tidur dengan cepat pada malam harinya. Tapi sia-sia saja. Semakin malam, semakin segar saja rasanya badan ini. Mungkin ini ada hubungannya dengan jam kelahiranku yang katanya jam 2 malam. Makin tidak sabar saja rasanya menunggu waktu buka sekolah yang tinggal sekitar 1 minggu ini.
Mungkin karena bukan merupakan kewajiban untuk bangun pagi di saat liburan, susah sekali rasanya untuk bisa menikmati secangkir susu, roti panggang, koran pagi, sebatang Mild Seven, dengan wajah dan badan segar. Kebalikannya yang sering adalah, menikmati semua itu pada saat menjelang tidur karena jam tidur yang pindah ke jam 7 pagi.
Tahun lalu seingatku tidak separah ini, karena setidaknya summer tahun lalu aku pergi liburan ke Toyama. Ah, kurasa aku tahu penyebabnya sekarang. Mungkin karena komputer dan Internet sialan ini! Karena kalau dipikir-pikir, kenapa kalau tidak ada Internet di tempat di mana aku menginap, atau kalaupun ada, situasi di tempat tersebut tidak mengizinkan browsing web untuk membaca berita-berita lucu politikus tanah air , berita-berita aneh tapi nyata tentang sontoloyo-sontoloyo yang duduk di pemerintahan di tanah air, berita-berita tentang komputer, musik, dan segala macam semalam suntuk, maka penyakitku pasti tidak datang.
Menyesal juga kenapa hari itu tidak jadi ke Bali!
6:29 AM
Sunday, September 10, 2000
Teman Baruku
Kemarin aku ketinggalan kereta terakhir ke apartmentku. Dan bukanlah hal yang enak untuk bermalam di jalanan sepanjang malam. Walaupun aku tahu hal itu, kemarin tidak ada terlintas sedikitpun di benakku untuk pulang dengan taksi. Sayang sekali kalau harus mengeluarkan sekitar 10 ribu yen untuk ongkos taksi dari Shibuya ke apartmentku. Lebih baik kusimpan 10 ribu yen pemberian temanku untuk ongos taksi dan bermalam di jalanan Shibuya, sambil menikmati Tokyo malam. Well, sebenarnya aku sudah menolak uang pemberian temanku tersebut, dan mengatakan bahwa mungkin aku akan bermalam di jalanan, tapi karena mereka terus memaksa.
Aku duduk-duduk di pinggir jalanan, sambil mendengarkan musik dari DJ jalanan. Shibuya malam, masih saja tetap lautan manusia, walaupun tidak sepadat siang hari tentu saja. Sialnya pertunjukan DJ jalanan itu tidak berlangsung lama, sekitar pukul 2 pagi, kulihat ia mulai mengemasi peralatannya dan bersiap-siap pulang. Tinggal aku yang masih harus menunggu sekitar 3 jam lagi untuk kereta pertama menuju apartementku.
Kuputuskan untuk mencoba Starbucks Coffee. Tertulis di pintu masuknya, sampai jam 2 AM. Tapi suasana di dalam masih lumayan ramai. Aku masuk saja, memesan segelas Rumba Flappucino. Saking capainya aku tertidur di meja. Waktu kulirik G-Shock kuningku ketika aku bangun, angka-angka digital itu sudah menunjukkan 03:00. Kulihat cafe sudah mulai sepi, dan para pelayan sudah mulai dengan pekerjaan beres-beres nya. Sebelum diusir, mendingan aku keluar saja pikirku.
Melangkah tak ada tujuan, akhirnya aku sampai di depan exit Hachiko stasiun Shibuya. Masih lumayan ramai disini. Pasangan-pasangan yang kemungkinan besar juga ketinggalan kereta, berbaur dengan para homeless bertebaran di taman kecil di situ. Beberapa traveller-traveller tak berduit juga kelihatan sedang melewati malam mereka disitu.
Bosan menunggu pagi, kutegur seorang bule berkacamata hitam yang duduk di sebelahku. Setelah berbicara sekitar 10 menit akhirnya aku baru tahu bahwa alasan dia memakai kaca mata hitam di saat gelap gulita seperti itu bukanlah untuk gaya-gayaan, tapi memang dia perlu kacamata untuk rabun jauhnya, dan satu-satunya yang ia miliki hanya sunglasses tersebut.
Namanya Wes, katanya dia dari LA. Dan baru sampai di Jepang kira-kira 2 hari yang lalu. Senang sekali rasanya bisa ketemu dengan foreigner di Jepang, dimana kita bisa merasa senasib berada di negeri orang. Mungkin karena perasaan senasib sesama traveller, aku menawarinya untuk istirahat di apartmentku. Sedikit sangsi juga tentu saja, karena bagaimanapun juga aku baru kenal dia kira-kira 1 jam. Tapi kita harus melihat segalanya dari sisi positif, right?
Anyway, aku merasa seperti seorang santo hari ini ketika aku mengantarnya kembali ke stasiun, dan dia mengucapkan terima kasih untuk tempat tidur 5 jam di apartmentku. Yah dunia akan menjadi tempat yang indah sekali kalau semua orang saling peduli akan sesama.
4:49 PM
Keyboard dan Aku
Bagi orang seperti aku yang menghabiskan lebih dari 8 jam memelototi layar komputer setiap harinya, keyboard itu ibarat pedang bagi seorang ksatria. Atau senapan bagi seorang pemburu. Dulu aku pikir bodoh sekali untuk membayar 4000 yen hanya untuk sebuah keyboard. Aku pikir, toh jumlah tombolnya sama saja dengan yang murahan, toh fungsinya sama saja. Karenanya keyboard ku yang dulu adalah keyboard murahan yang kubeli seharga 900 yen. Aku terlalu pelit untuk mengeluarkan lebih dari itu hanya untuk sebuah keyboard. Sampai kira-kira seminggu yang lalu, aku baru sadar bahwa keyboard ku itu mengganggu pekerjaanku. Aku tidak dapat mengetik dengan cepat dengan keyboard lama ku itu. Tombol-tombolnya terlalu keras, dan kita harus menekan tombol itu pas di tengahnya, mungkin tidak ada masalah dengan tombol-tombol huruf yang kecil. Tapi akan jadi masalah apabila tombol itu adalah tombol besar seperti tombol "shift". Yah dan untuk aku yang mengetik sekitar 300 huruf per menit, hal itu jelas mengganggu sekali. Aku masih mencoba bertahan, sampai dengan kemarin. Mungkin terdorong oleh kata-kata ayahku tentang profesionalisme.
1 jam aku hanya berdiri di depan contoh keyboard-keyboard yang dijual, mencoba mengetik dengan keyboard-keyboard itu. Sampai pada akhirnya, kuputuskan pilihanku pada "Logitech - Internet Keyboard." Rasanya aku baru sadar waktu itu, mengapa mereka punya keyboard murah dan keyboard mahal. Yah, aku baru sadar untuk kualitas memang kita harus membayar mahal, seperti aku harus rela merogoh 4000 yen dari dompetku kemarin. Tapi aku puas, puas sekali.
1:43 PM
Saturday, September 09, 2000
Khayalan Tentang Tuhan
Kalau lagi ngak bisa tidur, pikiranku suka melayang ke hal yang ngak-ngak. Seperti baru tadi ini, aku berpikir tentang Tuhan. Mungkin pertanyaan yang paling sulit sepanjang sejarah manusia adalah "Apakah Tuhan itu ada?" Terus terang, dulu aku ini atheis. Sampai kira-kira 1 bulan yang lalu, saat itu persis seperti saat sekarang ini juga, aku lagi bengong sendirian, ngak bisa tidur. Dan sel-sel kelabu itu bekerja sendiri tanpa diperintah.
Waktu itu aku berandai-andai, bagaimana kalau ternyata Tuhan yang ada dalam ajaran-ajaran agama selama ini hanyalah cerita dongeng saja. Cerita yang dikarang oleh orang-orang jenius. Mungkin maksud mereka saat itu adalah supaya orang-orang bisa berkembang dengan lebih baik. Supaya orang-orang takut untuk mencuri, takut untuk merampok, takut untuk memperkosa, dan sebagainya. Supaya orang-orang bisa lebih saling mencintai sesama, lebih menghargai sesama, tolong menolong dan sebagainya. Bukankah suatu ide mulia. Tapi harus diciptakan suatu figur yang ditakuti oleh semua orang. Figur yang sempurna, agar semua orang bisa mencontoh perbuatan-perbuatan baiknya. Figur yang bisa menghukum setiap orang yang melakukan hal-hal yang buruk. Figur yang berkuasa atas segalanya, yang tidak bisa ditipu, dan ada untuk selama-lamanya.
Setelah diciptakan figur, bagaimana dengan hukuman dan hadiah? Tentu saja mereka perlu hadiah karena telah menjalankan hal-hal yang baik, dan supaya mereka tidak melanggarnya perlu juga dibuat hukuman. Para jenius ini tahu bahwa tidak ada misteri yang lebih gelap daripada kematian. Tidak ada yang lebih ditakuti manusia daripada kematian. Tidak ada yang tahu akan kemana manusia ini pergi setelah ia mati. Jadi walaupun mereka berbohong, toh tidak mungkin akan ada yang tahu. Dikaranglah cerita-cerita tentang surga yang berisi bidadari-bidadari dan malaikat-malaikat berbaju putih yang berwajah cantik-cantik dan tampan-tampan, dengan pipi kemerahan, wajah yang berseri-seri yang tubuh yang sehat. Tempat tidur dari gumpalan awan putih, musik-musik merdu yang mengalun dari harpa yang dimainkan oleh putri kahyangan yang berwajah bak bintang film. Kebalikannya, untuk mereka-mereka yang tidak patuh, dikaranglah cerita tentang tempat yang bernama neraka. Isinya adalah setan-setan jelek berwajah seperti kodok bertubuh kuda, jeritan-jeritan manusia yang dipanggang api, gelak tawa penuh ejekan dari sipir-sipir penjaga tempat ini, dan segudang lagi hal-hal mengerikan lainnya.
Begitulah pikirku waktu itu. Sampai pada akhirnya aku tertidur, dan besoknya kudapati benjolan di leherku dan demam sekujur tubuh. Yang langsung teringat untuk pertama kalinya adalah khayalanku sebelum aku tidur. Lekas-lekas aku berdoa dengan segala cara yang pernah kupelajari, baik di sekolah Potestan, di kelenteng Buddha, maupun di gereja Katolik. Dasar pengecut, akupun lekas-lekas minta maaf kepada semua Tuhan-Tuhan yang mungkin saja tersinggung atas khayalanku. Untunglah cuman virus flu biasa saja.
Sekarang ini aku tidak berani sembarangan berkhayal lagi. Aku percaya bahwa ada kekuatan gaib yang jauh lebih kuat daripada manusia, kekuatan yang tidak bisa masuk akal manusia. Aku percaya bahwa ada yang jauh lebih kuat daripada manusia, yang berkuasa atas manusia. Hanya saja, aku masih tidak tahu, dengan begitu banyaknya agama, Tuhan siapakah yang paling benar?
6:10 AM
Karim
Ada yang bikin aku ini merasa senasib sama Karim. Aku masih ingat betapa aku tergetar waktu dia bilang, "Aku ini sejak lahir terus saja menjadi foreigner, bahkan di negara sendiri." Yah, Karim itu lahir dan besar di Kuwait, tapi berkewarganegaraan Jordan. Waktu Perang Teluk dia sebenarnya tinggal di Kuwait dengan keluarganya. Tapi setelah perang selesai dia diusir sendirian dari Kuwait karena di paspornya banyak kedapatan cap stempel Irak. Sementara keluarganya masih tetap di Kuwait, dan dia tidak diperkenankan masuk Kuwait. Setelah itu dia pun minggat ke US, 5 tahun berkerja disana, sampai akhirnya kawin dengan cewek Jepang, dan pindah ke Jepang sini. Aku tahu orang-orang seperti Karim ini tidak pernah merasakan bangganya menyanyikan lagu nasional, tidak pernah merasakan bangganya menghormat kepada secarik kain yang dinamakan bendera itu. Aku tahu bagi orang-orang seperti Karim ini kewarganegaraan itu adalah pengekang kemerdekaan. Sejilid buku kecil yang dinamakan paspor itu hanyalah pembuat garis-garis batas diantara manusia.
Karim ini tegar, seperti para pengungsi perang lainnya. Dalam pikirannya mungkin yang ada hanyalah bagaimana cara untuk survive, setahu aku dia tidak pernah peduli akan kewarganegaraan, atau bullshit lain seperti itu. Tapi setegar-tegarnya Karim, katanya dia menangis juga waktu mendengar The Star Splanged Banner untuk terakhir kalinya sebelum datang ke Jepang. Setegar-tegarnya dia setelah menjadi orang tanpa nationality seumur hidupnya yang sudah 26 tahun itu, kemarin aku dengar dia bilang, "Aku suka Jepang, aku ngak keberatan untuk jadi warga negara Jepang. Capek rasanya terus-terusan menjadi foreigner."
4:58 AM